Skip to content

Mapalangit Biru Tutup Pengabdian di Sumatra Utara, Relawan Pulang dengan Ikatan Keluarga

27 April 2026

CIREBON (rq) – Dua relawan Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon, Salman dan Mudaris secara resmi mengakhiri masa tugas kemanusiaan di Dusun Huntaraja dan Dusun Haramonting Desa Sait Kalanangan II, Kecamatan Tukka, kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Minggu (26/04/2026).

Keduanya tergabung dalam Satgas Kebencanaan Forum Komunikasi Keluarga Besar Pecinta Alam Bandung Raya (FK-KBPA-BR) dan telah menjalankan pendampingan sejak Desember 2025.

Selama hampir lima bulan, keduanya menjadi bagian dari upaya pemulihan masyarakat di desa yang sempat terisolasi akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang wilayah utara dan tengah Pulau Sumatra pada akhir November 2025.

Bersama warga, khususnya 43 keluarga yang bertahan, mereka menghadirkan pendampingan sosial sekaligus membangun kembali semangat kebersamaan. Momen perpisahan berlangsung penuh haru. Sebagai tanda penghormatan, masyarakat Hutaraja memberikan kain ulos kepada kedua relawan. Kain tradisional khas Tanah Batak itu bukan sekadar simbol budaya, tetapi juga wujud kasih sayang dan ikatan kekeluargaan yang telah terjalin selama masa pengabdian.

Rangkaian acara pelepasan dimulai pada Jumat malam dengan makan bersama anggota Pos Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) HUNTAR (Hutaraja Haramonting). Suasana hangat penuh canda dan cerita menjadi penutup kebersamaan antara relawan dan warga.

Ketua PMPB HUNTAR, Jonter Simatupang, menyampaikan pesan yang sarat makna. Dirinya juga mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam atas dedikasi dan pengorbanan para relawan yang telah ikut serta dalam penanganan dan pemulihan pasca bencana yang terjadi di wilayahnya beberapa waktu yang lalu.

“Semoga tetap sehat dan selamat sampai tujuan. Perpisahan ini bukan berarti kita saling melupakan. Komunikasi dan silaturahmi harus tetap terjaga. Kalian bukan lagi relawan, tetapi sudah menjadi keluarga kami. Aku tulang-mu, kalian bere-ku. Horas!” tuturnya.

Sementara itu, Mang Achil dari GPA Bandung yang turut mendampingi selama masa operasi, juga memberikan pesan singkat agar kedua relawan menjaga kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan.

Berakhirnya masa tugas ini menandai selesainya satu babak pengabdian Mapalangit Biru di Hutaraja. Namun lebih dari itu, kehadiran mereka telah meninggalkan jejak kemanusiaan yang kuat, mengubah hubungan relawan dan warga menjadi satu ikatan keluarga yang akan terus hidup di hati masyarakat. (Red)