
CIREBON (rq) – Sejumlah budayawan Indonesia kembali menghadirkan karya monumental berupa buku ke – 45 yang mengupas warisan budaya Nusantara berjudul “Pesona Tombak yang Melegenda”. Buku tersebut ditulis oleh budayawan senior Gatut bersama tim penulis: M. Rizal Arubusman, Syaiful Alam, Dhani Wijaya, dan Zen Faray.
Karya tersebut menjadi dokumentasi penting mengenai perjalanan panjang tombak di Nusantara, mulai dari fungsi sebagai senjata, alat berburu, hingga kedudukannya sebagai pusaka sakral yang diwariskan kepada lintas generasi.
Tombak : Jejak Peradaban yang Harus Diingat
Dalam buku tersebut, para penulis menyajikan uraian runtut mengenai berbagai jenis tombak yang digunakan masyarakat Nusantara dari masa ke masa. Tombak bukan hanya digunakan untuk berburu atau bertahan hidup, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam tentang keberanian, kehormatan, dan spiritualitas.
Salah satu penulis utama, Gatut, menegaskan bahwa buku tersebut ditulis untuk menjaga kesinambungan pengetahuan budaya. Khususnya tombak, bukan hanya tentang besi dan kayu; ia adalah rekam jejak peradaban.
“Generasi sekarang harus tahu bahwa pusaka leluhur menyimpan identitas bangsa, bukan hanya sekedar alat atau fungsinya semata. Tetapi juga ada nilai historis yang baik dari sisi sejarah maupun budaya,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Penulis lainnya, M. Rizal Arubusman, juga menjelaskan bahwa banyak generasi muda belum mengenal ragam tombak Nusantara. Baik itu dari bentuknya, sampai pada nilai sejarah yang terkandung didalamnya.
“Kami ingin menyajikan data sejarah yang mudah dipahami, agar anak muda tak hanya mengenal tombak sebagai benda, tetapi juga sebagai simbol perjalanan nenek moyang dan kearifan budaya leluhur,” tuturnya.
Sementara itu, Syaiful Alam menilai bahwa dokumentasi budaya seperti itu sangat mendesak dilakukan. Apalagi ditengah arus informasi media sosial yang sangat deras. Butuh adanya literasi yang secara konsisten mengungkap sejarah serta peninggalan para leluhur.
“Jika tidak dicatat, banyak cerita besar tentang pusaka akan hilang bersama para sesepuh dan arus perkembangan jaman. Buku ini adalah bentuk tanggung jawab budaya, serta sarana informasi untuk melestarikan sejarah peninggalan para leluhur,” katanya.
Sedangkan penulis Dhani Wijaya menambahkan, bahwa proses penulisan dilakukan dengan riset lapangan dan wawancara sejumlah tokoh budaya. Penggalian informasi dan dokumentasi sejarah, juga dilakukan dengan berbagai macam metode pendalaman dari peninggalan dan jejak – jejak yang masih tersisa.
“Kami menemui berbagai narasumber di Yogyakarta, Cirebon, dan wilayah lain. Setiap tombak punya kisah yang tak ternilai. Banyak historis yang terungkap dari berbagai aspek mulai dari jenis, bentuk, kegunaan dan ciri khasnya” ucap Dhani.

Sementara itu, Zen Faray menyebut buku yang diterbitkannya hadir sebagai jembatan lintas generasi. Yang menyambungkan kehidupan masa lampau, perjuangan para leluhur dan nilai – nilai yang terkandung didalamnya.
“Kami ingin pembaca merasakan bahwa tombak adalah bagian dari jiwa Nusantara, bukan sekedar artefak masa lalu. Banyak informasi yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai pemahaman sejarah kehidupan para leluhur dimasa lampau,” ungkapnya.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri tokoh budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Prabu Kusumo, yang memberikan apresiasi yang tinggi kepada para penulis atas kepedulian serta dedikasinya terhadap sejarah.
“Dari judulnya saja sudah sangat menarik. Tombak yang Melegenda tentu mengandung makna mendalam. Saya bangga karena ada buku baru yang menulis tentang pusaka leluhur ini penting bagi generasi masa kini,” ujar Gusti.
Para penulis berharap buku “Pesona Tombak yang Melegenda” dapat menjadi rujukan akademisi, pemerhati budaya, maupun masyarakat umum yang ingin memahami lebih jauh tentang tombak sebagai bagian penting dari sejarah Nusantara.
Peluncuran buku tersebut juga diharapkan memotivasi lebih banyak budayawan untuk terus meneliti dan melestarikan pusaka bangsa agar tidak lekang oleh waktu. (R01/by)


