Lanjut ke konten

Warga Bode Lor Protes, Bau Menyengat Dari Kandang Bebek dan TPS Desa Megu Cilik Mengganggu Kenyamanan

16 November 2025

CIREBON (rq) – Keluhan warga Blok Duan Sukun Kidul, RT 20 RW 01, Desa Bode Lor, Kecamatan Plumbon, kembali mencuat akibat bau menyengat yang diduga berasal dari kandang bebek dan tempat pembuangan sampah (TPS) milik Desa Megu Cilik, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Kedua fasilitas tersebut berada dalam satu lokasi dan hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah warga terdampak.

Keberadaan kandang bebek dan TPS itu menurut warga sudah lama menjadi sumber polusi udara dan berpotensi mengganggu kesehatan. Ketika angin bertiup dari arah timur, bau busuk dikatakannya semakin menyengat dan masuk ke area permukiman warga.

Mediasi Memanas,  Kuwu Megu Cilik Diduga Arogan dan Ancam “Perang”

Puncak keluhan terjadi pada Selasa, 11 November 2025, ketika perwakilan warga Bode Lor mendatangi kantor Desa Megu Cilik untuk meminta penjelasan sekaligus solusi. Namun, suasana pertemuan berubah tegang setelah warga menilai Kuwu Megu Cilik bersikap arogan dan mengeluarkan perkataan bernada ancaman.

Seorang warga yang hadir dalam mediasi, namun meminta namanya dirahasiakan, mengungkapkan bahwa kepala desa sempat menggebrak meja di hadapan warga yang hadir.

“Kami datang baik – baik untuk menyampaikan keresahan. Tapi tiba – tiba Kuwu menggebrak meja. Dengan mata melotot dan suara keras, ia bilang seperti ingin mengulang perang antara Bode Lor dan Megu Cilik. Kami sangat kaget dan kecewa,” ujarnya, Sabtu (15/11/2025).

Menurutnya, sikap tersebut tidak pantas ditunjukkan oleh seorang kepala desa, kepada masyarakat yang hanya menginginkan lingkungannya lebih sehat.

Warga lainnya yang turut hadir juga membenarkan, bahwa suasana pertemuan berlangsung panas. Bahkan, mandor Desa Bode Lor disebut sampai berdiri dari tempat duduknya, karena melihat sikap kuwu Megu Cilik yang dianggap sudah melewati batas.

“Warga hanya minta solusi. Tapi yang kami dapat ancaman dan gertakan. Kami merasa tidak dihargai sebagai warga yang merasa dirugikan,” ungkapnya.

Warga Bode Lor menegaskan bahwa mereka tidak meminta fasilitas tersebut ditutup selamanya, melainkan dipindahkan ke lokasi yang tidak berdekatan dengan permukiman.

Kekhawatiran Terjangkit Penyakit, Warga Terdampak Mulai Tinggalkan Rumah

Selain bau busuk, warga juga khawatir dengan potensi penyakit akibat tumpukan sampah dan pengelolaan kandang bebek yang dinilai tidak mengedepankan kenyamanan masyarakat desa Bode Lor. Beberapa contoh kasus kesehatan disebut sudah terjadi.

Masyarakat menambahkan, ada anak yang meninggal karena masalah paru – paru diduga akibat bau dan asap pembakaran sampah. Ada juga dugaan yang terkena tifus. Kami tidak berani bilang pasti dari dampak pembuangan sampah, tapi jika dilihat dari kondisi TPSnya, kemungkinannya besar seperti itu.

Kekhawatiran itu membuat beberapa keluarga yang berdekatan dengan lokasi kandang bebek dan TPS, memilih meninggalkan rumah sementara waktu. Mereka mengontrak tempat tinggal lain demi menjaga kesehatan anak – anaknya.

“Rumah kami sampai ditinggalkan. Bukan karena tidak betah, tapi karena takut anak – anak sakit lagi. Bau dari kandang bebek dan sampah itu tidak bisa ditahan,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya yang pindah sementara.

Gangguan kesehatan juga dialami anak – anak sekitar yang bersekolah di salah satu SD negeri. Seorang orang tua murid mengaku anaknya pernah terkena tifus dan dokter menduga lingkungan yang tercemar dapat menjadi salah satu pemicu.

Situasi tersebut membuat beberapa keluarga memutuskan pindah untuk sementara waktu ke tempat yang lebih jauh dari lokasi TPS dan kandang bebek.

Warga Minta Pemerintah Tidak Tutup Mata dan Segera Turun Tangan

Warga berharap pemerintah Kecamatan Weru, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Peternakan, serta aparat penegak hukum, untuk turun langsung meninjau kondisi di lokasi Kandang Bebek dan TPS desa Megu Cilik. Mereka meminta penanganan yang nyata dan sesegera mungkin dari pemerintah selaku pemangku kebijakan publik.

“Kami tidak menolak TPS atau kandang bebek dari lingkungan tempat tinggal Kami. Hanya saja kami minta ditata dan dikelola dengan baik dan benar, sesuai aturan, tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar dan tidak membahayakan kesehatan,” ujar masyarakat lainnya kepada awak media.

Mereka juga mendesak kepada pemerintah untuk dilakukannya evaluasi menyeluruh, mulai dari izin lokasi, standar lingkungan, hingga potensi bahaya dari pencemaran udara maupun kesehatan.

Hingga berita ini dipublikasikan, Redaksi masih berusaha menghubungi Pemerintah Desa Megu Cilik untuk meminta keterangan resmi, terkait keluhan warga maupun tudingan soal sikap Kuwu dalam mediasi. (R01/ris)